Menghadapi Art Block!

Art block adalah keadaan dimana seseorang merasa tidak memiliki ide, inspirasi, atau motivasi untuk membuat sebuah karya seni (Aida, 2019). Lol jk. Tapi memang kurang lebih seperti itu yaa. Hihi. Kamu pernah mengalaminya juga?

Aku pernah, bahkan cukup sering. Ada waktu-waktu dimana aku punya banyak kesempatan untuk menggambar (alias gabut), tapi saat menghadapi sebuah kertas yang masih kosong, tidak ada satu pun ide yang muncul. Do I suck at this? Keraguan selalu datang di saat-saat seperti ini, yang pada akhirnya membuat kertas itu pada akhirnya tetap kosong.

Banyak distraksi lain yang terasa lebih menarik dan kurasa akan membantuku lupa bahwa aku tidak pandai menggambar. Kemudian saat aku mulai termotivasi kembali dan mencoba mencari inspirasi dengan melihat karya-karya lain yang luar biasa bagus, hal yang malah terlintas di otakku adalah, bahwa sebanyak apapun usaha yang aku kerahkan, gambarku bahkan tidak akan pernah mendekati level mereka walau hanya satu jengkal.

artblock
Ilustrasi oleh ResoluteAssassin.

Untungnya, art block tidak pernah bertahan lama untukku. Here’s how I fight it when it haunts! Continue reading “Menghadapi Art Block!”

“Gambarin Dong….”

Merasa familiar dengan kata-kata ini? Biasanya kata-kata ini sering muncul di kolom komentar Instagram seseorang yang posting hasil gambarnya. Dan yang sering terjadi padaku, justru yang berkomentar seperti ini adalah orang-orang yang malah tidak begitu dekat denganku. Aneh kan?

Sejak pertama kali aku punya Instagram, komentar semacam ini memang sangat sering muncul di hampir semua akun gambar yang aku ikuti. Nah, beberapa di antaranya pernah membahas topik ini setelah seringkali merasa risih, karena hal ini seakan-akan sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan okay. Tell you what; it is NOT okay.

Percakapan yang umum terjadi di DM antara seorang desainer dan pengikutnya, kurang lebih seperti ini:

🐢 : Kak, mau dibikinin logo dong
🖌️ : Halo, boleh tahu budget-nya berapa? 🙂
🐢 : Oh, berbayar ya kak?
🖌️ : …

Untuk orang yang menganggap seni sebagai hobi sepertiku, aku cukup membiarkan pesan-pesan semacam itu, apalagi dari orang yang tidak dikenal. No hard feeling. Tapi ternyata, bagi desainer atau seniman yang mencari penghasilan dengan menjual hasil karyanya, percakapan seperti ini tentu terkesan ‘meremehkan’ karya-karya yang mereka buat. Hal ini lebih sering terjadi pada freelancer (terutama mereka yang masih rising) karena mereka biasanya lebih aktif memanfaatkan sosial media sebagai kanal untuk mencari klien potensial. Padahal, belum memiliki banyak klien dan portfolio yang tebal bukan berarti karya mereka tidak ada harganya kan.

(Kasusnya mungkin akan sedikit berbeda dengan desainer in-house atau yang bekerja di agensi, walaupun yaa mereka juga pasti sering mengalami hal semacam ini jika posting karyanya di sosial media.)

Banyak orang belum faham berapa banyak waktu yang dikorbankan untuk memiliki skill seperti mereka; berapa biaya media atau alat penunjang untuk membuat karya tersebut, dan ratusan karya lainnya yang mengantar mereka ke tingkat keahliannya sekarang (mahal cuy!); berapa usaha yang harus mereka kerahkan; dan hal lain yang harus mereka tinggalkan untuk dapat menghasilkan karya seperti mereka saat ini. Belum lagi karya digital yang memerlukan gawai yang tidak murah, dan jangan lupakan juga harga perangkat lunaknya.

Budget yang kamu keluarkan tentu akan berbanding lurus dengan waktu yang dipakai dan usaha yang dikerahkan oleh seorang desainer. Kalau ada temanmu yang membuka jasa gambar atau desain, please, jangan minta ‘harga teman’. Kalau kamu memang seorang ‘teman’, bukannya seharusnya kamu memberinya lebih banyak dibandingkan kepada seseorang yang lebih asing?

Making money as an artist / designer is hard enough, please don’t make it harder for them by saying “gambarin dong…” 😊

Menggambar, Untuk Apa?

Sejauh ini, aku menggambar untuk kesenangan dan kepuasan diriku sendiri. I’m doing art for the sake of art. I’m sharing it on the internet so people can see how fun it is to create something. Kadang aku merasa bingung ketika ada (banyak) teman yang bertanya kenapa karyaku tidak dijadikan bisnis saja.

Belum terpikir untukku menjual atau membuat karya-karyaku menjadi sebuah bisnis. Aku merasa belum siap membagikan karyaku untuk orang lain secara profesional. Sejujurnya, aku takut karyaku diukur dengan valuasi uang, aku takut karyaku tidak ada harganya di mata orang lain, aku takut orang lain menganggapku terlalu percaya diri padahal karyaku biasa saja. Tapi, hal yang paling aku takutkan, adalah aku sendiri akan lupa betapa menyenangkannya menggambar jika aku melakukannya untuk rupiah.

Mungkin bisa saja suatu saat aku menjadikan karyaku sebagai bisnis, tapi saat ini, aku memang hanya menggambar apa yang ingin aku gambar; untuk diriku sendiri. Beberapa kali aku menggambar untuk orang lain, ya karena memang aku ingin menggambarnya. Misal, ketika teman dekatku meminta secara personal agar dibuatkan desain undangan / souvenir pernikahannya, aku senang karena bisa sedikit berperan di hari bahagia mereka, dan kebetulan aku memang sedang ingin dan ada waktu untuk melakukannya. Tentunya hal ini akan sangat berbeda kalau mereka memintaku untuk melakukannya lalu memberi upah berupa uang. Bagiku hal ini rasanya akan berbeda sekali.

Kalau boleh, tidak perlu tanya apa yang akan aku lakukan dengan karyaku. Aku sendiri tidak tahu kemana mereka akan membawaku. Yang pasti, aku nyaman dengan mereka dan aku ingin selalu membuat karya yang baru lagi dan lagi.

Animals’ supports! (1)

I was walking down the street when a bird stopped by and said, “I am free, and you are too”. We looked at each other for a second, I smiled and thanked her. Then she made her way back to the sky, as I made my own way towards my so-called dream.

IMG_20181010_180956_072
The Bird. (Already posted this drawing on my Instagram some times ago, inspired by one of my favorite artists Chibird.)