Digital art is fun, but ink and paper are still the champions (for me).

You know what’s the best thing about digital art? You can undo every stroke you made. No worries about those careless, unintended lines. You can redo it as many times as you want until you’re satisfied. But it’s also the one thing that makes me love traditional art more.

Drawing traditionally makes me more confident when I’m doing a stroke. Once the ink touches the paper, there’s no going back. If by any chances you make a mistake, you just gotta embrace it. None of my works are perfect and that’s perfectly okay.

Sure, digital art offers endless possibilities. But then again, so far, I think nothing beats that feeling when a pen tip reaches a paper. There’s a therapeutic feeling when seeing the ink flows through blank space. There’s a satisfying sensation hearing that squeaky noise of a pen hitting the paper. There’s a sense of belonging to each piece I made, somehow.

My hand’s now sore for I spent most of my Eid holiday drawing on the iPad, and I gotta admit, digital art is indeed addictive. Then yesterday, I finally back to ink and paper, and I was like, “Daymn, I miss this.

I know it seems unfair comparing traditional art that I’ve been doing for the last five years to digital art that I’ve only started last month. But this is honestly how I feel right now. I don’t know if my opinion’s gonna change within years ahead, but let’s see!

“Gambarin Dong….”

Merasa familiar dengan kata-kata ini? Biasanya kata-kata ini sering muncul di kolom komentar Instagram seseorang yang posting hasil gambarnya. Dan yang sering terjadi padaku, justru yang berkomentar seperti ini adalah orang-orang yang malah tidak begitu dekat denganku. Aneh kan?

Sejak pertama kali aku punya Instagram, komentar semacam ini memang sangat sering muncul di hampir semua akun gambar yang aku ikuti. Nah, beberapa di antaranya pernah membahas topik ini setelah seringkali merasa risih, karena hal ini seakan-akan sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan okay. Tell you what; it is NOT okay.

Percakapan yang umum terjadi di DM antara seorang desainer dan pengikutnya, kurang lebih seperti ini:

🐢 : Kak, mau dibikinin logo dong
🖌️ : Halo, boleh tahu budget-nya berapa? 🙂
🐢 : Oh, berbayar ya kak?
🖌️ : …

Untuk orang yang menganggap seni sebagai hobi sepertiku, aku cukup membiarkan pesan-pesan semacam itu, apalagi dari orang yang tidak dikenal. No hard feeling. Tapi ternyata, bagi desainer atau seniman yang mencari penghasilan dengan menjual hasil karyanya, percakapan seperti ini tentu terkesan ‘meremehkan’ karya-karya yang mereka buat. Hal ini lebih sering terjadi pada freelancer (terutama mereka yang masih rising) karena mereka biasanya lebih aktif memanfaatkan sosial media sebagai kanal untuk mencari klien potensial. Padahal, belum memiliki banyak klien dan portfolio yang tebal bukan berarti karya mereka tidak ada harganya kan.

(Kasusnya mungkin akan sedikit berbeda dengan desainer in-house atau yang bekerja di agensi, walaupun yaa mereka juga pasti sering mengalami hal semacam ini jika posting karyanya di sosial media.)

Banyak orang belum faham berapa banyak waktu yang dikorbankan untuk memiliki skill seperti mereka; berapa biaya media atau alat penunjang untuk membuat karya tersebut, dan ratusan karya lainnya yang mengantar mereka ke tingkat keahliannya sekarang (mahal cuy!); berapa usaha yang harus mereka kerahkan; dan hal lain yang harus mereka tinggalkan untuk dapat menghasilkan karya seperti mereka saat ini. Belum lagi karya digital yang memerlukan gawai yang tidak murah, dan jangan lupakan juga harga perangkat lunaknya.

Budget yang kamu keluarkan tentu akan berbanding lurus dengan waktu yang dipakai dan usaha yang dikerahkan oleh seorang desainer. Kalau ada temanmu yang membuka jasa gambar atau desain, please, jangan minta ‘harga teman’. Kalau kamu memang seorang ‘teman’, bukannya seharusnya kamu memberinya lebih banyak dibandingkan kepada seseorang yang lebih asing?

Making money as an artist / designer is hard enough, please don’t make it harder for them by saying “gambarin dong…” 😊

Menggambar, Untuk Apa?

Sejauh ini, aku menggambar untuk kesenangan dan kepuasan diriku sendiri. I’m doing art for the sake of art. I’m sharing it on the internet so people can see how fun it is to create something. Kadang aku merasa bingung ketika ada (banyak) teman yang bertanya kenapa karyaku tidak dijadikan bisnis saja.

Belum terpikir untukku menjual atau membuat karya-karyaku menjadi sebuah bisnis. Aku merasa belum siap membagikan karyaku untuk orang lain secara profesional. Sejujurnya, aku takut karyaku diukur dengan valuasi uang, aku takut karyaku tidak ada harganya di mata orang lain, aku takut orang lain menganggapku terlalu percaya diri padahal karyaku biasa saja. Tapi, hal yang paling aku takutkan, adalah aku sendiri akan lupa betapa menyenangkannya menggambar jika aku melakukannya untuk rupiah.

Mungkin bisa saja suatu saat aku menjadikan karyaku sebagai bisnis, tapi saat ini, aku memang hanya menggambar apa yang ingin aku gambar; untuk diriku sendiri. Beberapa kali aku menggambar untuk orang lain, ya karena memang aku ingin menggambarnya. Misal, ketika teman dekatku meminta secara personal agar dibuatkan desain undangan / souvenir pernikahannya, aku senang karena bisa sedikit berperan di hari bahagia mereka, dan kebetulan aku memang sedang ingin dan ada waktu untuk melakukannya. Tentunya hal ini akan sangat berbeda kalau mereka memintaku untuk melakukannya lalu memberi upah berupa uang. Bagiku hal ini rasanya akan berbeda sekali.

Kalau boleh, tidak perlu tanya apa yang akan aku lakukan dengan karyaku. Aku sendiri tidak tahu kemana mereka akan membawaku. Yang pasti, aku nyaman dengan mereka dan aku ingin selalu membuat karya yang baru lagi dan lagi.

Menulis tanpa Membaca, Susah!

“Writing requires input and output. You need to feed your mind and then use it to produce valuable thoughts. The higher quality your inputs, the higher quality your outputs.” (dikutip dari artikel di Medium)

Couldn’t agree more with this! Selama melakukan 30-day writing challenge ini, kerasa banget menulis sedikit lebih mudah saat kita banyak membaca. Walaupun bacaannya gak berkorelasi dengan apa yang ingin ditulis, tulisanku sedikit lebih “mengalir” saat aku sedang membaca sesuatu. Setelah “keseringan” main Instagram (dan YouTube) beberapa tahun terakhir ini, suguhan visual menjadi santapan sehari-hari. Seringkali aku scroll timeline untuk menikmati foto atau video saja tanpa membaca caption, karena, paling isinya quote-quote yang ga ada korelasinya dengan gambar. Wkwkwk. Yaaa kecuali untuk beberapa teman dekat atau influencer yang benar-benar influences aku. Hehe.

Setelah aku baca puluhan artikel mengenai berbagai topik di Medium bulan lalu, aku merasa termotivasi untuk menulis. Bisa dibilang, input ini yang membuatku sedikit gak sabar untuk menciptakan output. Simpelnya, I do want to share things that might help people, like their writings did to me. Katanya sih, yang penting mulai dulu, just press those damn keys! 😀 

Aku cukup sadar dengan tata bahasa Indonesia-ku yang berantakan, karena memang aku cukup jarang baca buku atau artikel berbahasa Indonesia. Aku gak sering membaca, dan ketika membaca, buku atau artikel berbahasa Inggris terasa lebih nyaman buatku; entah kenapa terasa lebih valid(?) dan lebih mudah aku pahami. Aku juga aware kok bahasa Inggris-ku masih pas-pasan, sama berantakannya dengan bahasa Indonesia-ku, tapi justru dengan menulis ini aku merasa bisa belajar banyak. Untuk membuat tulisan sepanjang ini saja aku butuh lebih dari satu jam, bisa bayangkan kan aku masih sangat kesulitan dalam menuangkan apa yang di otak ke dalam bahasa tulisan? :’)

Balik lagi ke kutipan di atas, tentunya susah dong ya menciptakan tulisan-tulisan yang bermakna kalau bacaan kita aja gak berkualitas atau bahkan gak pernah baca. Makanya saat ini aku belajar untuk baca lebih banyak agar bisa menulis lebih banyak, baik dalam bentuk buku, artikel, atau postingan teman-teman di WordPress ini; you guys help me a lot! 

Kalau teman-teman punya rekomendasi blog yang tulisannya menginspirasi kalian untuk terus menulis, boleh dong di-share di kolom komentar 🙂