Hoarder? Collector?

“I have too much art supplies,” said no one ever.

Art supplies are indeed addictive. Tidak ada kata “cukup” atau “berlebihan” untuk orang-orang sepertiku yang secara rutin membeli pulpen, sketch book, sticky notes, washi tapes, dll hampir setiap bulannya. Specifically, setiap habis gajian lol. Aku selalu penasaran, ingin mencoba, dan memiliki berbagai alat tulis yang belum pernah aku pakai sebelumnya. Ada rasa puas tersendiri setelah membeli dan memakai barang-barang tersebut. Ada beberapa yang benar-benar aku suka dan kupakai berulang kali hingga habis (dan kubeli lagi, kadang kubeli beberapa sekaligus agar merasa “aman”). Ada pula yang cukup satu atau beberapa kali kupakai lalu akhirnya kusimpan dalam sebuah box bersama puluhan alat tulis lainnya yang hanya sesekali kukeluarkan.

Sering terpikir, apakah aku seorang hoarder, or simply a collector? Ini yang aku temukan di Psychology Today:

“…Art supplies comprise a large part of many hoards… People who hoard often come up with idea after idea, saving things for all kinds of creative reasons but never following through with those plans. They have become victims of their own creativity.” 

Ini bener banget sih, mungkin aku memang ada bakat menjadi seorang hoarder hahaha. Seringkali aku membeli sesuatu karena terinspirasi oleh seseorang yang memakainya, dengan harapan agar bisa membuat karya seperti yang mereka buat. Namun faktanya ide-ide itu jarang ada yang terwujud, seakan-akan semua ide itu hanya sebuah excuse untuk bisa punya lebih banyak art supplies.

Anyway, alat-alat gambar yang kubeli selalu terpakai kok untuk ide lain yang muncul secara tiba-tiba saat alat tersebut sudah ada di depan mataku, walaupun hanya satu dua kali terpakai. Hanya mungkin, aku memang perlu mengurangi bahkan berhenti membeli art supplies lagi dan lagi, karena box-ku sudah semakin penuh.