Menulis tanpa Membaca, Susah!

“Writing requires input and output. You need to feed your mind and then use it to produce valuable thoughts. The higher quality your inputs, the higher quality your outputs.” (dikutip dari artikel di Medium)

Couldn’t agree more with this! Selama melakukan 30-day writing challenge ini, kerasa banget menulis sedikit lebih mudah saat kita banyak membaca. Walaupun bacaannya gak berkorelasi dengan apa yang ingin ditulis, tulisanku sedikit lebih “mengalir” saat aku sedang membaca sesuatu. Setelah “keseringan” main Instagram (dan YouTube) beberapa tahun terakhir ini, suguhan visual menjadi santapan sehari-hari. Seringkali aku scroll timeline untuk menikmati foto atau video saja tanpa membaca caption, karena, paling isinya quote-quote yang ga ada korelasinya dengan gambar. Wkwkwk. Yaaa kecuali untuk beberapa teman dekat atau influencer yang benar-benar influences aku. Hehe.

Setelah aku baca puluhan artikel mengenai berbagai topik di Medium bulan lalu, aku merasa termotivasi untuk menulis. Bisa dibilang, input ini yang membuatku sedikit gak sabar untuk menciptakan output. Simpelnya, I do want to share things that might help people, like their writings did to me. Katanya sih, yang penting mulai dulu, just press those damn keys! 😀 

Aku cukup sadar dengan tata bahasa Indonesia-ku yang berantakan, karena memang aku cukup jarang baca buku atau artikel berbahasa Indonesia. Aku gak sering membaca, dan ketika membaca, buku atau artikel berbahasa Inggris terasa lebih nyaman buatku; entah kenapa terasa lebih valid(?) dan lebih mudah aku pahami. Aku juga aware kok bahasa Inggris-ku masih pas-pasan, sama berantakannya dengan bahasa Indonesia-ku, tapi justru dengan menulis ini aku merasa bisa belajar banyak. Untuk membuat tulisan sepanjang ini saja aku butuh lebih dari satu jam, bisa bayangkan kan aku masih sangat kesulitan dalam menuangkan apa yang di otak ke dalam bahasa tulisan? :’)

Balik lagi ke kutipan di atas, tentunya susah dong ya menciptakan tulisan-tulisan yang bermakna kalau bacaan kita aja gak berkualitas atau bahkan gak pernah baca. Makanya saat ini aku belajar untuk baca lebih banyak agar bisa menulis lebih banyak, baik dalam bentuk buku, artikel, atau postingan teman-teman di WordPress ini; you guys help me a lot! 

Kalau teman-teman punya rekomendasi blog yang tulisannya menginspirasi kalian untuk terus menulis, boleh dong di-share di kolom komentar 🙂

Hoarder? Collector?

“I have too much art supplies,” said no one ever.

Art supplies are indeed addictive. Tidak ada kata “cukup” atau “berlebihan” untuk orang-orang sepertiku yang secara rutin membeli pulpen, sketch book, sticky notes, washi tapes, dll hampir setiap bulannya. Specifically, setiap habis gajian lol. Aku selalu penasaran, ingin mencoba, dan memiliki berbagai alat tulis yang belum pernah aku pakai sebelumnya. Ada rasa puas tersendiri setelah membeli dan memakai barang-barang tersebut. Ada beberapa yang benar-benar aku suka dan kupakai berulang kali hingga habis (dan kubeli lagi, kadang kubeli beberapa sekaligus agar merasa “aman”). Ada pula yang cukup satu atau beberapa kali kupakai lalu akhirnya kusimpan dalam sebuah box bersama puluhan alat tulis lainnya yang hanya sesekali kukeluarkan.

Sering terpikir, apakah aku seorang hoarder, or simply a collector? Ini yang aku temukan di Psychology Today:

“…Art supplies comprise a large part of many hoards… People who hoard often come up with idea after idea, saving things for all kinds of creative reasons but never following through with those plans. They have become victims of their own creativity.” 

Ini bener banget sih, mungkin aku memang ada bakat menjadi seorang hoarder hahaha. Seringkali aku membeli sesuatu karena terinspirasi oleh seseorang yang memakainya, dengan harapan agar bisa membuat karya seperti yang mereka buat. Namun faktanya ide-ide itu jarang ada yang terwujud, seakan-akan semua ide itu hanya sebuah excuse untuk bisa punya lebih banyak art supplies.

Anyway, alat-alat gambar yang kubeli selalu terpakai kok untuk ide lain yang muncul secara tiba-tiba saat alat tersebut sudah ada di depan mataku, walaupun hanya satu dua kali terpakai. Hanya mungkin, aku memang perlu mengurangi bahkan berhenti membeli art supplies lagi dan lagi, karena box-ku sudah semakin penuh.