Pen Review: Tombow ABT Dual Brush Pen Vs. Sakura Koi Coloring Brush Pen

(disclaimer: review ini 100% pendapat pribadi)

Tombow ABT Dual Brush Pen dan Sakura Koi Coloring Brush Pen merupakan dua pen yang cukup mainstream, karena memang gampang banget untuk didapat di berbagai tempat. Banyak lettering artist yang merekomendasikan kedua merek ini karena pilihan warnanya yang banyak dan cantiksss!

Menurutku, keduanya punya kelebihan masing-masing, tapi manakah yang lebih cocok untuk kamu? Mari kita bandingkan!

(Bisa klik di sini ya untuk baca ulasan lengkap dariku mengenai brush pen Tombow.)

img_20190517_135825-01
Tombow ABT Dual Brush Pen & Sakura Koi Coloring Brush Pen.

Continue reading “Pen Review: Tombow ABT Dual Brush Pen Vs. Sakura Koi Coloring Brush Pen”

Menulis tanpa Membaca, Susah!

“Writing requires input and output. You need to feed your mind and then use it to produce valuable thoughts. The higher quality your inputs, the higher quality your outputs.” (dikutip dari artikel di Medium)

Couldn’t agree more with this! Selama melakukan 30-day writing challenge ini, kerasa banget menulis sedikit lebih mudah saat kita banyak membaca. Walaupun bacaannya gak berkorelasi dengan apa yang ingin ditulis, tulisanku sedikit lebih “mengalir” saat aku sedang membaca sesuatu. Setelah “keseringan” main Instagram (dan YouTube) beberapa tahun terakhir ini, suguhan visual menjadi santapan sehari-hari. Seringkali aku scroll timeline untuk menikmati foto atau video saja tanpa membaca caption, karena, paling isinya quote-quote yang ga ada korelasinya dengan gambar. Wkwkwk. Yaaa kecuali untuk beberapa teman dekat atau influencer yang benar-benar influences aku. Hehe.

Setelah aku baca puluhan artikel mengenai berbagai topik di Medium bulan lalu, aku merasa termotivasi untuk menulis. Bisa dibilang, input ini yang membuatku sedikit gak sabar untuk menciptakan output. Simpelnya, I do want to share things that might help people, like their writings did to me. Katanya sih, yang penting mulai dulu, just press those damn keys! 😀 

Aku cukup sadar dengan tata bahasa Indonesia-ku yang berantakan, karena memang aku cukup jarang baca buku atau artikel berbahasa Indonesia. Aku gak sering membaca, dan ketika membaca, buku atau artikel berbahasa Inggris terasa lebih nyaman buatku; entah kenapa terasa lebih valid(?) dan lebih mudah aku pahami. Aku juga aware kok bahasa Inggris-ku masih pas-pasan, sama berantakannya dengan bahasa Indonesia-ku, tapi justru dengan menulis ini aku merasa bisa belajar banyak. Untuk membuat tulisan sepanjang ini saja aku butuh lebih dari satu jam, bisa bayangkan kan aku masih sangat kesulitan dalam menuangkan apa yang di otak ke dalam bahasa tulisan? :’)

Balik lagi ke kutipan di atas, tentunya susah dong ya menciptakan tulisan-tulisan yang bermakna kalau bacaan kita aja gak berkualitas atau bahkan gak pernah baca. Makanya saat ini aku belajar untuk baca lebih banyak agar bisa menulis lebih banyak, baik dalam bentuk buku, artikel, atau postingan teman-teman di WordPress ini; you guys help me a lot! 

Kalau teman-teman punya rekomendasi blog yang tulisannya menginspirasi kalian untuk terus menulis, boleh dong di-share di kolom komentar 🙂

You (Actually) Have Time.

img_20190427_153007-01
Replace the word “lettering” with anything you’ve been wanting to do for so long. Good luck!😊

If you think you spend too much time on your Instagram like me, you might want to check this app: Digital Wellbeing. You’ll probably be surprised by the amount of time you spend on Instagram (or generally, your phone). I believe allocating your Insta-time for something more productive is SUPER worth it.

This app is developed by Google and it tracks your digital habits. I’ve used it for months and it really helped me in many ways. I used to spend 5-6 hours a day on my phone, but these days I only spend 3-4 hours on average. It’s still a big number, but you know, it’s a progress.

Being a remote worker means I have full control of how I used my 24-hour. My boss isn’t around to check out my works every now and then so I can slouch all I want, as long as I did my works perfectly and on time.

I opened my phone every time I had the chance to take a break. Instagram was the most used app on my phone. It took me TWO-FREAKING-HOUR every day. I don’t post a lot, but I do love scrolling every picture on my timeline, liking, commenting, replying to stories, sharing funny posts, and chatting through DMs. Well yeah it’s definitely a way to socialize, but is it worth my two hours every single day?

After realizing how much time I wasted on Instagram and how I always unconsciously opened it, I tried to limit my Instagram usage. Thanks to the app I mentioned above, I can set a timer; I started with 1,5 hour, 1 hour, 30 minutes, and last week, I ended up deactivating my Instagram account. I also deleted the app from my phone so I don’t relapse 😀 Now I have more time to work on my writing (and drawing). After all, two hours is more than enough to do anything.

Hoarder? Collector?

“I have too much art supplies,” said no one ever.

Art supplies are indeed addictive. Tidak ada kata “cukup” atau “berlebihan” untuk orang-orang sepertiku yang secara rutin membeli pulpen, sketch book, sticky notes, washi tapes, dll hampir setiap bulannya. Specifically, setiap habis gajian lol. Aku selalu penasaran, ingin mencoba, dan memiliki berbagai alat tulis yang belum pernah aku pakai sebelumnya. Ada rasa puas tersendiri setelah membeli dan memakai barang-barang tersebut. Ada beberapa yang benar-benar aku suka dan kupakai berulang kali hingga habis (dan kubeli lagi, kadang kubeli beberapa sekaligus agar merasa “aman”). Ada pula yang cukup satu atau beberapa kali kupakai lalu akhirnya kusimpan dalam sebuah box bersama puluhan alat tulis lainnya yang hanya sesekali kukeluarkan.

Sering terpikir, apakah aku seorang hoarder, or simply a collector? Ini yang aku temukan di Psychology Today:

“…Art supplies comprise a large part of many hoards… People who hoard often come up with idea after idea, saving things for all kinds of creative reasons but never following through with those plans. They have become victims of their own creativity.” 

Ini bener banget sih, mungkin aku memang ada bakat menjadi seorang hoarder hahaha. Seringkali aku membeli sesuatu karena terinspirasi oleh seseorang yang memakainya, dengan harapan agar bisa membuat karya seperti yang mereka buat. Namun faktanya ide-ide itu jarang ada yang terwujud, seakan-akan semua ide itu hanya sebuah excuse untuk bisa punya lebih banyak art supplies.

Anyway, alat-alat gambar yang kubeli selalu terpakai kok untuk ide lain yang muncul secara tiba-tiba saat alat tersebut sudah ada di depan mataku, walaupun hanya satu dua kali terpakai. Hanya mungkin, aku memang perlu mengurangi bahkan berhenti membeli art supplies lagi dan lagi, karena box-ku sudah semakin penuh.

Pen Review: Joyko Brush Pen

(disclaimer: review ini 100% pendapat pribadi. Joyko brush pen ini muncul di timeline salah satu aplikasi e-commerce di hapeku kemarin banget, dan langsung cussss aku beli. Jadi ini review berdasarkan first impression ya.)

Highlight-ku dari brush pen Joyko ini adalah: MURAH BANGET! Satu pak berisi 12 warna aku beli dengan harga 31,000 aja. Murah banget gak sih😭😭😭 DAAANNN dia punya dua tip! Brush tip dan fine tip. Mantap banget kan, dengan harga segini menang banyak. Bagaimana dengan kualitasnya? Yuk mari kita bahas!

img_20190511_110832-01
Harga satu set brush pen Joyko = Harga satu buah brush pen Tombow fude twin tip. 31ribu aja!

Continue reading “Pen Review: Joyko Brush Pen”