Belajar Psikologi Membuatku…

(Bisa baca masing-masing subjudul di bawah untuk melengkapi judul di atas✨)

Sudah pas lima tahun sejak aku lulus dan mendapatkan gelar Sarjana Psikologi. Dan walaupun pekerjaanku sekarang nggak ada kaitannya secara langsung dengan latar belakang pendidikanku ini, sama sekali nggak ada penyesalan yang aku rasakan.

Tenang, di sini aku gak akan memaparkan teori-teori yang aku pelajari selama kuliah. Nanti yang baca akan pusing, yang nulisnya apalagi, hahaha.

Ada beberapa hal padaku yang nggak akan bisa lepas dari apa yang sudah kupelajari selama kuliah dulu. Kalau diingat-ingat lagi, aku versi maba beda banget dengan aku pas lulus. Bukan cuma berkembang secara kognitif, tapi aku pribadi memang merasa jauh lebih dewasa secara mental. Selain karena banyaknya ilmu yang aku pelajari, juga karena berbagai pengalaman yang sedikit banyak terjadi gara-gara aku anak psikologi. Dan tentunya karena nambah tua lima tahun juga, wkwkwk.

Bagiku, ada BANYAK BANGET pelajaran yang bisa diambil selama bertahun-tahun itu, dan aku rangkum jadi empat poin di bawah ini:

Lebih kenal dengan diri sendiri.

Katanya, mahasiswa psikologi itu kuliah sambil rawat jalan. Dan enggak salah sih, hahaha. Selama belajar psikologi, aku seperti punya cermin yang semakin lama semakin jernih. Dan seringkali ada AHA! moment gitu ketika ada teori yang bisa aku asosiasikan dengan diriku. Mengenal diri sendiri, membuatku tahu apa yang bisa kuperbaiki, dan tindakan apa yang bisa dilakukan selanjutnya.

Contohnya, dalam hal emosi. Aku hampir selalu bisa merasakan setiap emosi dengan sadar. Aku sadar saat aku senang, sedih, atau marah. Dan walaupun tidak selalu tepat, aku tahu hal-hal apa yang bisa memicu emosi-emosi itu, dan aku tahu bagaimana mengendalikan emosi yang aku rasakan. Makanya (seingatku) aku jarang banget snapped alias tiba-tiba meledak –seperti aku saat kecil atau remaja.

Atau misalnya, saat aku belajar tentang konsep self-esteem, aku mulai menganalisis diri sendiri dan sadar bahwa self-esteem-ku saat itu rendah. Kenapa bisa rendah ya? Apa dampak buruknya? Apa sih yang bisa aku lakukan untuk meningkatkannya? Yaa seperti itulah kira-kira. Tapi tentu semuanya berproses, kan nggak mungkin tiba-tiba punya self-esteem meroket dalam sehari. 😀

Ilmu psikologi cakupannya sangat luas; satu perilaku manusia bisa dibahas dengan menggunakan berbagai konsep dan teori. Jadinya, banyak banget yang aku pelajari tentang diriku sendiri. Secara bertahap, aku jadi semakin kenal dan lebih nyaman dengan diri sendiri, dan banyak belajar bagaimana menjadi aku yang lebih baik lagi.

Bisa lebih peka dan jadi lebih paham dengan apa yang terjadi di sekitar.

Cukup banyak praktikum yang kulakukan dulu, misalnya praktikum di mata kuliah konseling, observasi, interview, atau saat menjadi tester untuk psikotes. Dalam setiap praktikum, mahasiswa dituntut untuk lebih peka dengan gestur dan intonasi lawan bicara / testee, dan juga keadaan sekitar.

Mungkin karena terbiasa dengan ‘tuntutan’ ini, ditambah ratusan sesi curhat lain di luar sesi praktikum, aku merasa cukup terlatih dengan berbagai isyarat non-verbal saat berbicara dengan orang lain. Aku merasa bisa lebih peka dengan keadaan orang lain dibandingkan dulu. Tapi peka di sini tentunya saat sedang ‘present‘ ya. Kalau lagi ngelamun, nggak fokus, atau emang lagi nggak niat, ya gimana mau peka wkwkwk.

Berkomunikasi dengan lebih baik.

Di salah satu mata kuliah, aku belajar tentang active listening, dimana kita bukan hanya mendengarkan, tetapi juga harus tahu bagaimana merespon secara tepat, dan menunjukkan empati dengan kadar yang pas. Konsep ini sangat membantuku untuk menjadi lebih baik dalam berkomunikasi, apalagi memang sejak dulu aku senang sekali mendengar orang lain bercerita.

Selain itu, aku juga jadi belajar untuk melakukan small talks, bahkan dengan orang yang belum kukenal. Dulu banget, aku selalu menghindari berbicara dengan orang lain yang nggak kukenal dekat, tapi setelah lulus aku malah jadi anak marketing yang harus nyablak kemanapun aku pergi. Dan mau gak mau jadi makin lihai dengan seiring bertambahnya pengalaman wkwkwk.

Ketika aku kerja “sendirian” kaya sekarang, kerasa banget minat dan kemampuan bersosialku jadi sangat-sangat menurun karena memang nggak terlatih seperti dulu. Balik lagi kaya aku yang sebelumnya, tapi ya rasanya nyaman-nyaman aja karena mungkin memang nature-ku seperti ini, hehe.

Belajar untuk tidak judging dan menghargai setiap orang tanpa terkecuali.

Salah satu resiko sebagai anak psikologi adalah menjadi tempat curhat bagi siapapun  dan dimanapun, termasuk orang-orang yang baru kutemui. Banyak yang mulai menceritakan kisah hidupnya, mulai dari cerita biasa tentang kehidupan sehari-hari, hingga kisah-kisah WOW yang awalnya sulit kupercaya, karena kisah tersebut biasanya hanya akan kutemukan di layar kaca atau dalam buku fiksi.

Aku juga pernah mengobrol langsung dengan orang-orang yang ‘tidak biasa’. Sebut saja (maaf) narapidana, waria, PSK, “sugar baby”, gay, hingga korban kekerasan seksual. Yep, kamu enggak salah baca kok. Dan aku bersyukur bisa mendengar secara langsung kisah-kisah ‘ekstrim’ ini dari sudut pandang mereka sendiri, karena dari sini lah aku semakin sadar bahwa aku nggak punya hak untuk menilai seseorang hanya berdasarkan apa yang aku tahu. Aku juga jadi belajar untuk mengambil sisi netral dalam setiap kisah yang aku dengar.

Kesimpulan yang bisa kuambil dari banyaaaaaaaakkkk orang yang sudah kudengar kisahnya adalah bahwa pada akhirnya, we’re all just humans trying our best

img_0419
Dikutip dari anonim.

Lucu juga ya, dipikir-pikir. Sebelum memulai belajar psikologi, aku bahkan lupa punya ekspektasi apa terhadap jurusan ini. Tapi sekarang aku malah bersyukur banget sudah berkesempatan untuk belajar segitu banyaknya.

Aku bukan bermaksud membangga-banggakan jurusanku, tapi yaaa memang inilah penghayatanku terhadap ilmu psikologi. Aku nggak akan jadi aku yang sekarang tanpa belajar itu semua.

Kamu sendiri, pelajaran apa yang kamu dapatkan dari jurusanmu?

4 thoughts on “Belajar Psikologi Membuatku…

  1. Menarik, walaupun bukan psikolog, aku sendiri suka dengan ilmu psikologi. Belakangan sedang belajar tentang berbagai metode ilmu terapi ringan untuk aplikasi keseharian.. Tentang apa yang saya pelajari dari jurusan sendiri…karena backgroundku ilmu hitung duit, jadi terbiasa teliti soal keuangan serta …setidaknya dibanding belum paham ilmu itu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s