Sedikit tentang Terapi Seni / Art Therapy.

Beberapa hari yang lalu aku berkesempatan untuk mengikuti kuliah terbuka mengenai Art Therapy (Terapi Seni) di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Sebagai lulusan psikologi yang kebetulan tertarik pada seni rupa, topik ini bagiku sangat menarik. Tema ini masih agak jarang ditemui di Indonesia, setauku karena memang art therapist di sini masih bisa dihitung jari.

Aku merasa beruntung bisa ikut kuliah terbuka dengan kuota terbatas ini, jadi di sini kuketik satu-dua hal yang kucatat ya, semoga bisa menambah wawasan teman-teman.

img_0148
Diambil dari instagram mbak Arie @a.riswarie : Poster kuliah terbuka tentang Art Therapy di ITB hari Rabu, 2 Oktober 2019. Dalam satu hari kuotanya sudah langsung penuh, katanya. Aku pun izin beberapa jam dari kerjaan agar bisa datang kesini, niat yaaa wkwkwk.

Anyway, ini pertama kalinya aku ke gedung SR ITB. Aku sedang agak kurang sehat dan kamcong karena datang sendirian, tapi begitu kuliah dimulai, aku sampai lupa karena sangat bersemangat!

Kuliah dibuka oleh mbak Arie selaku MC/moderator, beliau adalah salah satu pengajar di FSRD ITB, kebetulan aku follow beliau di Instagram (aku dapat informasi kuliah ini pun dari IG beliau). Setelah itu, ada sambutan dari Ibu Irma Damajanti, yang juga merupakan pengajar di FSRD ITB, dan beliau adalah penginisiasi dan pengembang mata kuliah Psikologi Seni di ITB sejak 20 tahun yang lalu. Beliau berharap Art Therapy bisa menjadi program studi di ITB di tahun-tahun mendatang. Aamiin! Kalau nanti ada, semoga aku bisa salah satu yang pertama daftar. Haha.

Narasumber dalam kuliah ini adalah Ronald PMH Lay, beliau adalah forensic art therapist asal Kanada, yang sekarang menjadi ketua prodi Art Therapy di Lasalle College of Art Singapore, satu-satunya kampus di Asia Tenggara yang menyediakan program Art Therapy. Yep, bidang ini memang masih terbilang jarang di Asia, sedangkan di belahan dunia barat bidang ilmu ini sebenarnya cukup populer.

img_20191002_130343
Narasumber Ronald PMH Lay, kufoto sebelum kuliah dimulai. Pas udah mulai, langsung fokus dan ngga inget lagi untuk ambil foto :”

Sesi pembuka: membuat collage, untuk apa ya?

Ron memulai kuliah ini dengan mengajak audiens untuk membuat sebuah collage atau semacam scrapbook tentang diri masing-masing. Beliau menyediakan setumpuk gambar random yang merupakan potongan gambar dari berbagai majalah, lalu meminta setiap audiens untuk mengambil tiga hingga lima gambar dari tumpukan tersebut. Kertas HVS, lem / tape, spidol, pensil warna, hingga kertas warna pun disediakan, lalu setiap audiens dibebaskan untuk berkreasi selama 15 menit.

img_20191005_063047-01
Hasil collage-ku setelah mengantri dan rebutan gambar dengan puluhan audiens lain. Tadinya sih ingin aku doodle satu kertas penuh 😀

Apa sih maksud dari kegiatan ini? Well, ini yang kutangkap ya. Dalam memilih potongan gambar, aku sendiri mulai mengindentifikasi apakah gambar ini relevan denganku? Apakah aku punya reaksi emosi terhadap gambar-gambar tertentu? Misalnya saja, bagiku kemarin ada beberapa gambar dengan objek, warna, atau ukuran tertentu yang membuatku tidak nyaman(?).

Meskipun pada akhirnya aku tidak menemukan gambar yang secara ideal bisa menggambarkan ‘aku’, ada beberapa gambar yang aku cukup nyaman melihatnya (bisa lihat di foto di atas ya). Dan ketika aku membandingkan dengan milik orang lain, ada beberapa yang cukup nyeleneh seperti hanya satu gambar saja tapi ukurannya besar, ada yang sangat crowded karena memakai banyak sekali gambar yang menumpuk-numpuk satu sama lain, ada juga yang sampai menyobek-nyobek kertasnya, dll. Dan ada juga yang menyusun dengan sangat rapi dan lurus, dengan dekorasi yang super minim.

Dari pengamatan sederhana ini saja, kita bisa sedikit tahu apakah seseorang tunduk pada instruksi (memilih 3-5 gambar), atau di luar itu. Turned out aku ini anak yang penurut. Hahaha. Awalnya aku memutuskan hanya akan menggunakan dua gambar, lalu saat melihat kebanyakan menggunakan 3-5, aku pun ikutan. Rules of conformity, ya kan wkwkwk.

See? Sejak awal beliau membawakan kuliah ini dengan seru, interaktif, dan insightful. Aku bisa merasakan audiens lain pun sangat fokus, respect, dan terkesan dengan beliau.

Jadi, terapi seni tuh gimana sih maksudnya?

Setiap manusia pasti memiliki serangkaian emosi. Nah, dalam terapi seni, kita melibatkan serangkaian emosi itu dalam proses art making, dan tidak sekedar emosi di permukaan melainkan lebih jauh lagi. Termasuk saat membuat collage di awal, sedikit banyak, setiap orang baik sadar atau tidak sadar, pasti merasakan emosi tertentu saat berkreasi.

Pada dasarnya, terapi seni menggabungkan konsep-konsep art making dan psikologi. Jadi, seni di sini tidak hanya sekedar membuat sesuatu, tetapi membuat sebuah karya seni secara mindfully dan purposefully. Tugas dari art therapist di disini adalah menyelidiki pesan-pesan mendasar apa yang digambarkan melalui karya yang dibuat, dan menggunakan teknik psikoterapi / konseling untuk mencapai tujuan dari terapi.

Penelitian membuktikan bahwa seni memainkan peran penting dalam memperkaya kehidupan, dapat mengurangi stres & kecemasan, serta meningkatkan keseimbangan hidup yang sehat di antara berbagai peran, tanggung jawab, dan pengalaman yang dimiliki oleh setiap individu. Nah, atas dasar ini, dalam terapi seni, seni dikaitkan dengan kesehatan dan kesejahteraan manusia secara keseluruhan.

Manfaat dan tujuan terapi seni

Terdapat beberapa manfaat dari terapi seni:

  • Acknowledge (mengakui) dan meregulasi emosi
  • Mendamaikan konflik emosional
  • Menumbuhkan self-awareness / self-esteem
  • Mengembangkan keterampilan sosial, dukungan / koneksi teman sebaya
  • Mengelola perilaku, dorongan impulsif, kemarahan / emosi tertentu
  • Problem solving
  • Mengurangi stres & kecemasan
  • Membantu orientasi realitas
  • Meningkatkan (psychological) well-being / kesejahteraan psikologis.

Sedangkan tujuan dari terapi seni sendiri adalah untuk mendorong terjadinya proses komunikasi melalui penggunaan media seni, untuk memfasilitasi eksplorasi dan komunikasi dengan diri sendiri, belajar dan menemukan diri sendiri dari proses seni dengan cara yang konstruktif, dan juga untuk memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menemukan dan menggunakan kreativitasnya.

Apakah sebuah karya pasti dapat mendeskripsikan pembuatnya?

Sebuah karya bisa jadi menggambarkan psikodinamika pembuatnya; tapi kalau bukan profesional atau tidak tahu dasar ilmunya, tidak bisa sembarang analisis ya. Dan yang perlu kita ingat, you can never reduce one human being into one single drawing. Jadi, kita tidak bisa menarik kesimpulan begitu saja tentang seseorang hanya dari satu buah karyanya. Tidak boleh analisis berlebihan. Bahkan setiap analisis dari karya seseorang harus didukung oleh fakta (proof-based, evidence-based). Selain itu, proses analisis psikodinamika seseorang melalui terapi bisa memakan waktu yang cukup lama loh.

Capture11
Foto ini diambil dari Instagram @senirupaitb. Ini saat Ron akan memperlihatkan beberapa hasil karya kliennya.

Ron memperlihatkan beberapa hasil karya kliennya sebagai contoh. Beliau seorang profesional di bidang forensik, dan kliennya merupakan individu-individu yang termasuk ke dalam kategori criminally insane, dan beliau menjabarkan beberapa analisisnya terkait individu-individu tersebut. Some might take a couple of years and hundreds of artworks, katanya. Sayang, karya-karya yang beliau perlihatkan tidak bisa aku bagikan di sini karena beliau meminta agar tidak ada audiens yang mengambil gambar tersebut, karena sifatnya confidential alias rahasia.

Satu hal penting lainnya adalah, karya dalam konteks terapi seni tidak hanya sekedar doing art and crafts, melainkan harus sejalan dengan tujuan dari terapi yang pasti akan berbeda untuk setiap individu.

Dan kuliah pun selesai!

Kuliah ini cukup padat namun terasa sangat singkat dan ditutup dengan sesi tanya-jawab. Satu yang membuatku terkesan adalah sharing dari seorang audiens yang merupakan ibu dari seorang anak yang berada dalam spektrum autisme, beliau mengingatkan audiens bahwa komunikasi itu tidak hanya berbentuk verbal, melainkan ada banyak sekali bentuk komunikasi dan salah satunya adalah seni, dimana baginya seni adalah salah satu bentuk komunikasi anaknya terhadap dunia luar. Salute, bu!

In the end, we’re working with humans. It’s up to us to understand their language.

Okaayyy sekian sharing-ku kali ini, maaf kalau tidak terlalu komprehensif karena keterbatasan ilmu dan bahasaku sebagai pendengar (FYI ini kuliahnya memakai bahasa Inggris, dan sebenernya lumayan kagok menerjemahkan ini semua wkwkw).

Bagiku sendiri, kuliah ini bukannya memuaskanku secara kognitif, tapi justru membuat aku punya semakin banyak pertanyaan dan rasa penasaran tentang topik ini. Hehehe. Kalau ada hal lain yang aku temukan tentang terapi seni akan aku tambahkan nanti ya. Selamat berakhir minggu!

9 thoughts on “Sedikit tentang Terapi Seni / Art Therapy.

  1. Kagok aja bisa bikin tulisan “berisi” kayak gini, ya Mbak Aida 😍👏 Gimana nggak kagok cobaaaa.

    Dari gambaran singkat yang mbak ceritain, seru banget ya terapi seni ini. Kita dibantu selesaiin masalah dengan membuat karya seni. Jadi, media terapinya berupa art and craft ya mbak?

    Semoga ITB beneran buka program studi ini yaaaa. Dan Mbak Aida bisa jadi mahasiswa angkatan pertama 😆😍

    Liked by 1 person

    1. Haha memang pematerinya bagus sih, bagiku lumayan jelas pemaparannya. Tapi karena dia full in English jadi kagok aja nulisnya sambil nerjemahin😂

      Seruu! Yess, media terapinya bisa apa aja, yg kuinget hasil karya klien beliau ada yg pakai pensil, pensil warna, sm cat air. Tapi sebenarnya gak dibatasi kok medianya. Dan gak hanya seni rupa, musik dan movement juga masuk ke kategori art therapy 😀 Sayangnya memang harus punya sertifikasi untuk jadi art therapist di konteks profesional, gabisa sembarangan interpretasi gituuu. Makanya seru banget kayanya kalau ada jurusannya di sini! Aamiin ya Allah terima kasih doanya mba Shinta! Hihihi

      Liked by 1 person

      1. Alhamdulillah meskipun kagok tetap paham ya mbak. Kalo aku kayaknya bakal pusing bolak balik ngecek kamus 🤣🤣

        Oh jadi pilihan media terapinya banyak yaaa. Untuk punya sertifikasi butuh waktu lama kah mbak? Iyaya, pastinya yang bisa interpretasi nggak sembarang orang. Iya sama2, Mbak. Semoga niat untuk sekolah laginya semakin bulat ya Mbak Aida hihi 😁

        Liked by 1 person

      2. Aku pun sempet buka kamus loh🤣 Untuk sertifikasi emang harus ambil master setauku, ngga ada short course nya. Jadi yaa sekitar 2 tahunan.

        Tapi kalau untuk diaplikasiin sendiri mah bisa bisa aja, aku awalnya suka gambar2 zentangle (yg pattern2 itu) untuk self-therapy lewat art, baca di artikel2 & jurnal2 gitu hehe. Duh jadi keidean nih untuk dibikin post nya wkwkkw

        Liked by 1 person

      3. Oh gitu, berarti harus lanjut sekolah yaaa. Tuh, hayuk sekolah lagi mbak wkwk 😍

        Mantapppp. Yaudah, sembari nunggu kesempatan sekolah, dicoba aja self-therapy lewat artnya, Mbak Aidaaa.

        Nah, setelah gambar, dibikin tulisan deh. Entar aku siap sedia ngelike dan komen Insya Allah hihi 😘👍

        Like

      4. InsyaAllah kalau ada kesempatan mah mau bangeet mba haha.

        Sip udah aku masukin ke writing list aku👍🏼 Idenya sih banyak, eksekusinya nih yang butuh waktu banget😂

        Liked by 1 person

Leave a Reply to SAK Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s